escaperjourney

Night at The JB Imigration (1)

In cross road on April 29, 2011 at 1:10 pm

Berapa kali Anda ke Singapore? Satu kali, dua kali atau belum sama sekali?

Buat saya, ini adalah Singapore yang ke sekian kali. Tapi from time to time Singapore selalu memiliki cerita menarik. Disamping pria-prianya yang bersih.

Kami ke Singapore melalui jalan darat, kalau yang ini baru pertama kali. Karena malam, tidak ada pemandangan menarik bisa dilihat. Tapi memang, kami sengaja, mencari tempat tidur gratis 2 in 1. Touring and sleeping.

Kami harus berhenti di Johor Baru (JB) untuk men-cap paspor sebanyak dua kali. Yang pertama, cap untuk keluar dari Malaysia, dilanjutkan dengan cap untuk masuk Singapore.  Tidak ada kesulitan yang berarti untuk awalnya, dan bus akan membangunkan semua penumpang buat melakukan ritual tersebut.

Proses itu kira-kira memakan waktu 5 menit saja, dan kembali ke bus. Dua puluh menit kemudian, penumpang turun lagi buat cap paspor masuk ke Singapore. Tipsnya adalah jangan buang tiket bus, karena supir-supir sangat tertib, mereka tidak akan segan untuk meninggalkan Anda jika terlalu lama. Tapi Anda masih bisa naik bus bermerk sama yang datang kemudian dengan memamerkan tiket lama.

Saya, Nancy dan Agus bergegas turun ketika bus berhenti di imigrasi Singapore. Kami bertukar tas, karena semua isi tas harus diperiksa. Hal itu tidak berlaku ketika men-cap paspor di Malaysia. Pasalnya, Singapore memiliki peraturan unik, diantaranya pembatasan bawaan rokok, minuman keras dan lain halnya.

Agus membawa tas saya, sementara saya menggembol tas kamera. Kami antri dengan tertib, mengisi semacam form kedatangan untuk mendapatkan visa masuk yang berdurasi kurang lebih 3 bulan. Saya sudah berhasil, Nancy juga. Namun, Agus tampak begitu lama dan ditanya-tanyai terus.

Gosip yang kami terima memang telah mengindikasikan hal tersebut. Katanya, orang Melayu lebih susah masuk Singapore lewat darat dibandingkan orang Chinese. Teman-teman saya sudah berkali-kali visanya tidak lolos, dan pulang begitu saja. Tapi kami tidak menyangka hal itu terjadi pada Agus sampai akhirnya mata kepala melihat sendiri, Agus digiring masuk ke ruangan lain oleh petugas imigrasi.

Sementara kami menunggu dengan kebingungan. Supir bus memanggil semua tamu masuk lagi untuk melanjutkan perjalanan. Saya dan Nancy diusir dari loket cap, karena menghalangi jalan dan mencoba merinsek masuk.

“Hey Miss, kami nak hendak berangkat. Tak cukup ini waktu, terlambat sudah!” teriak supir bus gusar.

“Tak usah brade, tinggal saja, kita tunggu teman di sini,” saya menjawabnya tegas.

Dan kami berdua, membawa kamera dan pakaian, tertunduk lemas di pintu keluar imigrasi, tanpa bisa berkata apa-apa sambil terus melihat bus tumpangan melaju ke Singapore.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: