escaperjourney

Night at The JB Imigration (2)

In cross road on April 29, 2011 at 1:40 pm

Saya dan Nancy lemas, hanya duduk di pintu keluar imigrasi, yang terdekat dengan pintu masuk. Maksutnya adalah supaya bisa langsung dapat perkembangannya si Agus. Waktu sudah menunjukan Pk.02.30 pagi waktu Singapore.

Ada pemandangan unik. Semakin pagi orang yang memakai baju khas pabrik keluar dari pintu tersebut. Mereka bergerombol hingga 20 orang dan saling menunggu. Masing-masing memakai tutup kepala juga baju berwarna abu-abu. Tidak membawa apa-apa hanya bekal makanan di tangan.

Setelah diusut dan diperhatikan ternyata mereka adalah pencari nafkah asal Malaysia. Ibu-ibu itu tempat tinggalnya di Johor Baru kemudian bekerja di Singapura. Kalau pagi-pagi sebelum mentari keluar mereka dijemput oleh bus perusahaannya di Johor. Kemudian di ajak ke Singapura dan malamnya dikembalikan lagi.

Selain Ibu-ibu pekerja turis juga berdatangan, semakin pagi semakin banyak. Mereka seperti tidak berpindah apa-apa hanya membawa pakaian dan ransel kecil di punggung. Saya rasa mereka telah terbiasa melakukan trip darat ini. Mungkin kalau di Indonesia ini seperti perjalanan Surabaya-Jogja.

Sudah pukul 4.30 Agus tidak menampakkan batang hidungnya, kami pun resah. Petugas imigrasi berkepala botak keturunan  mulai terusik dengan aksi intip mengintip kami.

Sebenarnya petugas itu tampan, seperti polisi pada film-film Hongkong, sesekali tampak menyeruput kopi dari termosnya.  Akhirnya kami beranikan diri bertanya.

“Excusme, where is our friends, some of your blah blah blah,” saya mulai mengoceh. Pada intinya menerangkan kalau temannya dia membawa serta teman saya. Dan saya tidak bisa masuk ke Singapore tanpa teman saya sebab tadi telah bertukaran tas. Bawaan saya hanya kamera, sementara bawaan teman saya adalah kamera.

Imigration botak man itu cuma menjawab “Wait there!” Tapi ia memanggil temannya yang lain serta bisik-bisik. Nancy dengan tatapan tanpa nafsu, mendengarkan.

Dengan dikawal temannya kami memutar ke arah sebaliknya dan memulai mencari Agus. Habislah sudah hari kami di Imigrasi…

tanpa biaya hotel, uang makan dan penuh tanda tanya.

tips:

1. Imigrasi Singapura sangat ketat memeriksa bawaan orang. Salah satu yang bersada di depan kami tasnya harus di bongkar untuk diperiksa. Ternyata mereka membawa 4 slop rokok. Semuanya di sita tanpa babibu. Berlaku juga buat minuman keras

2. Saya, Nancy Agus adalah perokok kami memisahkan rokok pada 3 tas berbeda. Harga rokok di Sg ga masuk akal buat kantong Indonesia yaitu 70 SGD.

3. Meskipun tidak berlaku untuk semua orang, saya rasa salah satu alasan penahanan agus karena ia memakai topi dan enggan menatap petugas sebab mengantuk. Tanpa alasan jelas mereka menahannya. Jadi siapkan senyum termanis kala paspor mau di chop chop

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: